cecep_kusmana on July 11th, 2013

Masukan terhadap Policy Paper Fahutan IPB

Tags: , ,

cecep_kusmana on July 11th, 2013

Saat ini, walaupun secara konsep kita harus menggunakan pola berfikir ekosentris (holistik) dalam pengelolaan lingkungan hidup, namun dalam kenyataannya secara de facto kita masih mempraktekkan etika anthroposentris dalam pengelolaan sumberdaya alam (SDA) dan lingkungan . Etika anthroposentris, dimana posisi manusia berada di luar lingkungan hidupnya/ekosistem tempat hidupnya, telah memposisikan manusia untuk memanfaatkan SDA sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraannya tanpa menghiraukan kerusakan lingkungan/pencemaran yang ditimbulkannya. Penerapan etika ini secara empiris bisa menimbulkan dan meningkatkan kesejahteraan hidup, tetapi kondisi  lingkungan dibiarkan  menurun kualitasnya secara perlahan ataupun secara drastis yang menyebabkan daya dukung lingkungan terhadap pembangunan tidak terlanjutkan.

SDA-SDA beserta lingkungannya di planet bumi ini tidak berdiri sendiri tetapi mereka satu sama lain saling berhubungan timbal balik dan saling mempengaruhi melalui transaksi materi, energi dan informasi untuk menjalin suatu sistem kehidupan yang disebut sistem ekologi atau ekosistem yang kompleks. Pendayagunaan suatu SDA akan menimbulkan gangguan terhadap SDA-SDA lainnya melalui gangguan-gangguan terhadap siklus materi dan transformasi energi yang menghubungkan pertalian diantara mereka. Harapan kita gangguan terhadap ekosistem/lingkungan hidup dimana SDA itu berada tidak menimbulkan krisis lingkungan, tetapi gangguan tersebut masih memberi kesempatan kepada lingkungan hidup sebagai  suatu ekosistem untuk mencari keseimbangan yang baru sehingga daya lenting/daya dukung lingkungan masih bisa terlanjutkan untuk mendukung berbagai kegiatan pemanfaatan SDA yang dijalankan.

Dengan terus meningkatnya jumlah penduduk dunia saat ini tentu saja menimbulkan terus meningkatnya kebutuhan untuk menopang keberlangsungan kehidupan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk tersebut dengan cara mengintensifkan industrialisasi di berbagai sektor. Implikasinya, manusia menuntut lingkungan lebih berat dengan cara mengeksploitasi SDA-SDA yang ada untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik terhadap renewable resources maupun non-renewable resources. Hal ini diperberat dengan faktor sosial budaya masyarakat dunia saat ini yang cenderung bersifat konsumtif /boros sumberdaya, hedonisme, tidak berperilaku hidup sederhana, bersifat materialistis sebagai efek ekternalitas dari perilaku sistem perekonomian kapitalis liberalisme.Kerusakan SDA berikut lingkungannya terjadi secara masif di berbagai belahan dunia ini, sehingga fenomena ini telah mengakibatkan rusaknya beragam sistem penyangga kehidupan, seperti hutan, dimana-mana yang menimbulkan goyangan terhadap tatanan siklus materi dan transformasi energi dalam suatu sistem kehidupan dalam sekala global.

Kerusakan hutan sebagai salah satu sistem penyangga kehidupan telah menyebabkan berfluktuasinya rejim debit air sungai (banjir pada saat musim penghujan dan kekeringan pada saat musim kemarau); erosi tanah yang  menurunkan produktivitas lahan dan menimbulkan sedimentasi di hilir,diantaranya mengakibatkan pendangkalan waduk yang memperpendek umur pakainya; mengurangi penyerapan karbondioksida (CO2) dan produksi oksigen (O2); mengurangi produksi karbohidrat (sumber energi bagi herbivora) yang berarti mengurangi sumber energi bagi konsumer.  Fenomena ini akan mengurangi keanekaragaman hayati (gen, jenis, ekosistem) yang penting untuk memelihara kemantapan suatu ekosistem terhadap gangguan dan ikut menjamin tetap tersedianya pilihan SDA untuk dimanfaatkan oleh generasi berikutnya. Kondisi ini diperberat dengan praktek-praktek ekstraksi SDA yang kurang ramah lingkungan (pembakaran lahan, konversi mangrove menjadi tambak, konversi hutan menjadi lahan pertanian,dll) dan meningkatnya laju industrialisasi telah mengakibatkan global warming yang memicu terjadinya perobahan iklim global yang mengancam kelestarian SDA-SDA penunjang kehidupan berbagai mahluk hidup. Terancamnya kelestarian SDA-SDA tersebut akan menyebabkan ketidakberhasilan program pembangunan berkelanjutan (sustainable development), karena SDA-SDA yang ada merupakan modal utama pembangunan. Fenomena tersebut akan meningkatkan tingkat kemiskinan penduduk yang pada gilirannya akan lebih meningkatkan kemorosotan/ kerusakan SDA. Di pihak lain, tata kelola kelembagaan pengurusan SDA belum efektif, begitu pula peraturan perundangan yang belum memadai  dan penegakan hukum terhadap pelanggaran dalam praktek pengelolaan SDA masih lemah, sehingga azas keadilan dan pemerataan dalam pendayagunaan sumberdaya alam belum terwujud. Dengan demikian, hal tersebut akan mengancam terhadap ketersediaan pangan, energi dan obat-obatan bagi masyarakat.

Dengan adanya perencanaan sejak awal dari pengelolaan lingkungan, seperti harus disunsunnya RPPLH (Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup) dalam pemanfaatan SDA dan dilakukannya KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis) untuk memastikan diterapkannya prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam program pembangunan, juga sebagai dasar penyusunan tata ruang wilayah, maka diharapkan pengelolaan pembangunan dapat merupakan penopang pembangunan untuk meningkatkan nilai SDA dan meningkatkan manfaat lingkungan untuk kesejahteraan penduduk dalam kondisi lingkungan yang semakin baik.

Download paper : paper pembangunan dan pengelolaan pembangunan

Tags: , , , , ,

cecep_kusmana on February 13th, 2012

The biological resources of the mangrove ecosystem which are believed to be highly productive are not only able to provide various valuable forest products, but also maintain estuarine water quality as a habitat for many commercially important species of fish and prawns. For tropical countries, the mangrove is one of the important natural resources for the development sector in order to enhance human welfare through resource exploitation and environmental stability. Therefore, an adequate balance must be sought between the environmental benefits of the marginal mangroves and the productive role of these ecosystems on a sustained management basis (FAO, 1982).

As such, the mangrove forests should be managed to obtain the main objectives of mangrove forest management, i.e. to minimize the destruction or conversion of the mangrove forests, to utilize the mangrove resources on sustained-yield basis, to preserve the unique flora and fauna, to establish a mangrove protection forest and recreational forest, and to avoid or minimize environmental degradation (Soerianegara, unpublished report).

The mangrove resources in Indonesia involve the flora, fauna and land resources which are needed for supporting many kinds of human needs. In Indonesia, the mangroves developed well along the inner facing coast lines of most of the large islands. They are composed of trees (at least 47 species), shrubs (5 species), herbs and grasses (9 species), and parasites (2 species). It must be noted that the mangrove species composition varies from one island to another. In addition to the flora, the mangrove fauna in Indonesia consisted of Gastropoda (50 species), Bivalvia (6 species) and Crustacea (34 species). The marine fauna component is generally more prevalent than the terrestrial and tend to be dominated by Gastropoda and branchyurans. Besides the sedentary fauna, there are a number of species that use the mangrove ecosystems only as temporary habitat, whether it is for spawning, nursery, or shelter, e.g. many species of shrimp have been shown to be mangrove dependent (Macnae, 1974).

[Full text of “Management of Mangrove Ecosystem in Indonesia”]

Tags: , ,

Recently, more than 50 % of mangroves in Indonesia have been destroyed by various kinds of causes. The prominent causes result in the mangrove degradation as well as mangrove deforestation are over-exploitation, water pollution and mangrove conversion to other non-vegetated uses (Kusmana, 2008). Those degraded mangrove are distributed in many coastal areas all over Indonesia from Aceh in the west to Papua in the east.

One of significantly degraded mangrove ecosystems in Indonesia is mangroves in the coastal area of Jakarta which covered the area amounted to approximately 264.65 Ha. The mangrove in this area were destroyed because of conversion to real estate, electricity facilities, highway, airport infrastructure, and extensive fishpond. The fishpond area is only the chance for mangrove rehabilitation, because this area is still as permanent forest areas belongs to the government under the management of Agriculture and Marine Services of DKI Jakarta. Nevertheless without subject to technology for planting mangrove in this kind of fishpond is rather difficult because of the deep water column (range 1 to 2.5 m). In order to solve this constraint, a simple technique was applied to planted mangrove seedlings in those fishponds, it called guludan.

[Full text]

Pendidikan merupakan kegiatan mendasar yang bersifat driving-force untuk terciptanya pembangunan yang bermaslahat bagi kesejahteraan manusia dalam kondisi lingkungan hidup yang baik. Hal ini disebabkan karena melalui pendidikan dapat dihasilkan manusia (sebagai pelaku pembangunan) yang berilmu, berbudaya, bermartabat, dan berakhlak mulia sebagai modal utama bagi pelaksanaan pembangunan suatu negara.

Salah satu bidang ilmu yang merupakan sub-gugus dari pendidikan ini adalah pendidikan kehutanan bidang konservasi sumberdaya hutan. Seperti kegiatan pendidikan di bidang ilmu lainnya, pendidikan di bidang ilmu ini juga diarahkan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten di bidang konservasi sumber daya hutan sesuai dengan strata pendidikannya (diploma, S1, S2, S3). Agar efektif dan efisien serta hasil pekerjaannya dapat dipertanggungjawabkan, seyogyanya seorang lulusan ditempatkan pada bidang pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi/keahliannya yang tercermin dari strata pendidikan yang diikuti oleh lulusan tersebut. Sehubungan dengan itu, dalam tulisan ini akan dikemukakan kompetensi minimal apa yang seyogyanya dimiliki oleh seorang lulusan strata S1 bidang konservasi sumberdaya hutan.

[Full text]

cecep_kusmana on January 12th, 2011

Mangrove merupakan suatu formasi hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, lantai hutannya tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut.  Ekosistem mangrove merupakan ekosistem interface antara ekosistem daratan dengan ekosistem lautan.  Oleh karena itu, ekosistem ini mempunyai fungsi yang spesifik yang keberlangsungannya bergantung pada dinamika yang terjadi di ekosistem daratan dan lautan.

Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem yang mempunyai produktivitas yang tinggi yang memproduksi sumber makanan untuk sebagian besar berbagai jenis ikan, udang, kepiting dan berbagai biota perairan pantai lainnya.  Disamping itu dari segi perikanan, mangrove juga berperan sebagai spawning dan nursery grounds.  Kesemua fungsi mangrove tersebut tetap ada selama vegetasi mangrove dapat dipertahankan keberadaannya.

[Full text]

cecep_kusmana on January 12th, 2011

Abstract

Tulisan ini menjelaskan beberapa teknik penanaman mangrove yang berhasil diterapkan pada tapak-tapak dengan karakteristik khusus.  Tapak-tapak dengan kondisi khusus tersebut adalah tapak dengan ombak besar, tapak dengan genangan air dalam,  tapak berlumpur dalam, tapak yang tertimbun pasir dan tapak berbatu atau berkarang. Adapun teknik-teknik yang digunakan untuk menanam mangrove pada tapak khusus adalah dengan bangunan membuat pemecah ombak dan penghalang ombak pada tapak dengan ombak besar,  pembuatan guludan pada tapak tergenang air dalam, pembuatan tiang penyangga pada tapak berlumpur dalam, pembuatan lubang dan pengisian dengan lumpur pada tapak berpasir, dan penanaman dengan sistem gerombol (klaster) pada tapak yang berbatu atau berkarang.

Kata kunci: rehabilitasi mangrove, tapak khusus, guludan; pemecah ombak

Full text

Abstract

Estimating carbon sequestration in planted forests is very important activity within global warming issues. The main objective of our research was to develop allometric equation of aboveground biomass and carbon stock of planted Eucalyptus grandis forests in Toba plateau, North Sumatra using destructive method. The 18 tress of E. grandis was cutting to formulate allometric equation both aboveground biomass and carbon stock of 1-to-9 year old E. grandis trees. The variables observe include biomass and carbon content for individual stem, branch, and leaf for aboveground biomass and carbon stock. Organic carbon content from each part of E. grandis trees was analyzed by CN analyzer in laboratory. The result showed that allometric equation both biomass and carbon stock was in good relation with stem diameter (D) as log-linear equation. Carbon content average of E. grandis tree part was 44.92%. The best allometric equations for aboveground biomass and carbon stock of planted E. grandis were WAG = 0.0678D2.5794 (R2 98.8%) and CAG = 0.0266D2.6470 (R2 98.0%), respectively.

Full Text (Pdf. File)

cecep_kusmana on January 12th, 2011

Ekosistem mangrove merupakan ekosistem interface antara ekosistem daratan dengan ekosistem lautan.  Oleh karena itu, ekosistem ini mempunyai fungsi spesifik yang keberkelangsungannya bergantung pada dinamika yang terjadi di ekosistem daratan dan lautan.  Dalam hal ini, mangrove sendiri merupakan sumberdaya yang dapat dipulihkan (renewable resources) yang menyediakan berbagai jenis produk (produk langsung dan produk tidak langsung) dan pelayanan lindungan lingkungan seperti proteksi terhadap abrasi, pengendali intrusi air laut, mengurangi tiupan angin kencang, mengurangi tinggi dan kecepatan arus gelombang, rekreasi, dan pembersih air dari polutan.  Kesemua sumberdaya dan jasa lingkungan tersebut disediakan secara gratis oleh ekosistem mangrove.  Dengan perkataan lain, mangrove menyediakan berbagai jenis produk dan jasa yang berguna untuk menunjang keperluan hidup penduduk pesisir dan berbagai kegiatan ekonomi, baik skala lokal, regional, maupun nasional serta sebagai penyangga sistem kehidupan masyarakat sekitar hutan.  Kesemua fungsi mangrove tersebut akan tetap berlanjut kalau keberadaan ekosistem mangrove dapat dipertahankan dan pemanfaatan sumberdayanya berdasarkan pada prinsip-prinsip kelestarian.  Hal ini berarti mangrove berperan sebagai sumberdaya renewable dan penyangga sistem kehidupan jika semua proses ekologi yang terjadi di dalam ekosistem mangrove dapat berlangsung tanpa gangguan.

Full Text (Pdf. file)

cecep_kusmana on January 12th, 2011

Ditinjau dari tiga ekosistem utama (mangrove, padang lamun, terumbu karang) yang menopang produktivitas perairan pesisir dan lautan, PP No. 19 Tahun 1999 perlu direvisi karena criteria baku kerusakan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang tertera pada penjelasan pasal 8 ayat 1 dan 2 secara substansial tidak menempatkan ketiga ekosistem tersebut sebagai suatu ekosistem. Khusus untuk ekosistem mangrove dalam kaitannya dengan pencemaran, tidak selamanya komunitas tumbuhan mangrove menjadi bioindikator yang sahih sebgai penanda adanya pencemaran pada ekosistem mangrove yang bersangkutan. Banyak hasil penelitian membuktikan bahwa sedimen dan fauna invertebrate yang berada dan hidup di habitat mangrove berperan sebagai indicator yang sahih penanda ada tidaknya pencemaran pada ekosistem mangrove yang bersangkutan. Dengan demikian, criteria baku kerusakan mangrove harus dirubah.

Mangrove sebagai sumberdaya pada dasarnya terdiri atas (1) satu atau lebih spesies tumbuhan yang hidupnya terbatas di habitat mangrove, (2) spesies-spesies tumbuhan yang hidupnya di habitat  mangrove, namun juga dapat hidup di habitat non-mangrove, (3) biota yang berasosiasi dengan mangrove (biota darat dan laut, lumut kerak, cendawan, ganggang, bakteri dan lain-lain) baik yang hidupnya menetap, sementara, sekali-sekali, biasa ditemukan, kebetulan maupun khusus hidup di habitat mangrove, (4) proses-proses alamiah yang berperan dalam mempertahankan ekosistem ini baik yang berada di daerah bervegetasi maupun di luarnya, dan (5) daratan terbuka/hamparan lumpur yang berada antara batas hutan sebenarnya dengan laut. ………….. (Full text)